Biografi Nabi Muhammad - SAW sewaktu beliau masih hidup.
40 pelajaran dari AKHLAK Nabi Muhammad S.A.W.
------------------------------
01. Jangan tidur antara fajr dan Ishraq (saat ☀ muncul), Asr dan Maghrib, Maghrib dan Isha.
------------------------------
02.Hindarkan duduk dengan orang yang bau badan. Contoh bawang putih atau merah 😷
------------------------------
03. Jangan tidur dekat orang yang berbicara buruk sebelum tidur.
------------------------------
04. Jangan makan dan minum dengan tangan kiri.
------------------------------
05. Jangan makan makanan yang dikeluarkan dari gigimu ( Ceuhil ).
------------------------------
06. Jangan membunyikan sendi2 jari tangan maupun kaki.
------------------------------
07. Periksa dulu sepatumu sebelum memakainya.
------------------------------
08. Jangan memandang ke langit ketika shalat.
------------------------------
09. Jangan meludah dalam toilet.
------------------------------
10. Jangan bersihkan gigi dengan arang.
------------------------------
11. Duduk/jongkok baru kenakan celana.
------------------------------
12. Jangan patahkan benda keras dengan gigimu.
------------------------------
13. Jangan meniup makananmu ketika masih panas, tapi kamu boleh mengipasinya.
------------------------------
14. Jangan melihat/menghitung kesalahan orang lain.
------------------------------
15. Jangan berbicara antara iqamah dan adhan.
------------------------------
16. Jangan berbicara dalam toilet.
------------------------------
17. Jangan membicarakan keburukan temanmu / orang lain.
------------------------------
18. Jangan membuat temanmu marah
------------------------------
19. Jangan sering melihat ke belakang ketika berjalan.
------------------------------
20. Jangan hentakkan kakimu saat berjalan.
------------------------------
21. Jangan terlalu curigaan pada temanmu / orang lain.
------------------------------
22. Jangan pernah / suka berdusta.
------------------------------
23. Jangan membaui makanan saat memakannya.
------------------------------
24. Bicara yang jelas agar orang lain bisa memahami.
------------------------------
25. Hindari bepergian sendirian.
------------------------------
26. Jangan memutuskan sendiri namun berkonsultasilah dengan orang yang tahu.
------------------------------
27. Jangan terlalu membanggakan diri.
------------------------------
28. Jangan sedih dengan makananmu.
------------------------------
29. Jangan besar mulut.
------------------------------
30. Jangan mengusir pengemis.
------------------------------
31. Layani tamumu dengan baik dengan sepenuh hati.
------------------------------
32. Sabar Dan tawakal ketika dalam kemiskinan.
------------------------------
33. Bantulah dalam perkara kebaikan.
------------------------------
34. Pikirkanlah kesalahanmu dan bertaubatlah segera.
------------------------------
35. Berbuat baiklah kepada orang yang berlaku jahat padamu.
------------------------------
36. Qana'ah (hidup apa adanya)
------------------------------
37. Jangan terlalu sering Tidur, menyebabkan pikun.
------------------------------
38. Bertaubatlah minimal 100 kali sehari Dengan mengucapkan (Istighfaar).
------------------------------
39. Jangan makan dalam keadaan gelap.
------------------------------
40. Jangan makan sepenuh-penuh mulut.
---------------------------------------- Kirim ke yang lain untuk mengingatkan mereka.
-------------------------------
semoga Allah merahmatimu...! Aamiin.
-------------------------------
Cinta itu nyata.
-------------------------------
Kenapa kita tertidur ketika di masjid, namun bisa tetap terjaga saat menghadiri pesta?
------------------------------------------- Kenapa begitu susah untuk berkomunikasi dengan Allah namun begitu mudah bergosip?
--------------------------------------- Kenapa begitu mudah mengabaikan pesan ilahiah namun mudah memforward pesan yang tidak berfaedah?
-------------------------------------- Apakah anda akan mengirim ke teman2 atau mengabaikannya?
---------------------------------------Allah berfirman:"jika engkau menolakku di hadapan teman2mu. Aku akan menolakmu di hari kebangkitan"
---------------------------------------Apabila tiap muslim mengucapkan astaghfirullah wa atubu ilaih 3 times sekarang
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Rabu, 26 Desember 2018
TETAP BERSAMA JAMA’AH DAKWAH HINGGA AKHIR HAYAH YANG INDAH
TETAP BERSAMA JAMA’AH DAKWAH HINGGA AKHIR HAYAH YANG INDAH
(Oleh : Al Ustadz Cahyadi Takariawan)
Sepanjang sejarah dakwah, selalu ada kisah-kisah heroik, namun juga selalu ada kisah tragis yang menyertainya. Hal ini sejalan dengan logika sejarah kemanusiaan pada umumnya, bahwa akan selalu ada ketegaran namun juga ada keterjatuhan. Problem terbesar dalam pergerakan dakwah sebenarnya juga merupakan problem terbesar dalam sejarah anak manusia. Konsisten dan istiqomah dalam rentang waktu tertentu yang pendek adalah hal mudah. Namun untuk konsisten dan istiqomah dalam masa yang panjang adalah hal yang sangat berat dan tidak mudah. Disinilah paradoks mulai terjadi. Semangat juang yang tampak menggebu pada diri seorang aktivis bukanlah jaminan konsistensi dan kontinyuitas. Bahkan orang yang tampak memiliki amal perjuangan yang memukau dan mendapat pujian berkilau, tidak ada yang bisa memberi garansi tentang konsistensi.
Dakwah dan jama’ah yang semula demikian dibela dan dicintai, bisa ditinggalkan, dicela dan dinista pada penggal waktu berikutnya. Perjuangan dan pergerakan yang semula sangat dihormati dan dijunjung tinggi, bisa dicampakkan dan dicaci maki pada masa selanjutnya. Rasa cinta terhadap jama’ah dan dakwah yang dulu teramat besar, sekarang bisa luntur, hilang bahkan bisa berganti menjadi aroma kebencian dan dendam kesumat. Amal ditentukan di bagian Akhirnya. Yang sangat ‘mengerikan’ dalam menapaki perjuangan dakwah adalah konsisten hingga akhir. Karena amal justru dinilai pada bagian akhirnya. Bukan di awalnya.
Perhatikan kisah berikut.
Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi menceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw pernah melihat ada seseorang yang membunuh kaum musyrik. Ia salah satu prajurit Islam yang gagah berani. Namun Beliau Saw berkomentar, “Siapa yang ingin melihat penduduk neraka, lihatlah orang ini.” Seseorang segera mengikutinya, hingga prajurit tadi terluka dan tidak kuat menahan sakit. Tiba-tiba ia ambil ujung pedang dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hujamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.
Nabi Saw bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan perbuatan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka”.“Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya” (HR. Bukhari, no. 6493).
Dalam riwayat lain Nabi Saw bersabda :
wa innamal a'maalu bil khowaatiim
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada akhirnya”(HR. Bukhari, no. 6607).
Yang dimaksud ‘bil khowaatiim’ adalah amalan yang dilakukan di bagian akhir umurnya atau akhir hidupnya. Az-Zarqani dalam Syarh Al-Muwatha’ menyatakan bahwa amalan akhir manusia itulah yang menjadi penentu dan atas amalan itulah mereka akan dibalas. Orang yang dulunya beramal jelek lalu berubah melakukan amal baik di akhir hidupnya, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, orang yang dulunya penuh amal kebaikan, namun di akhir hidupnya justru melakukan amal keburukan, maka seperti bagian akhir itulah ia akan mendapat balasan.
Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (1: 173) memberi catatan atas hadits Sahl bin Sa’ad di atas, bahwa dari sinilah para ulama khawatir dengan keadaan su’ul khatimah, yaitu keadaan akhir hidup yang jelek. Dari Anas bin Malik Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek.“Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.”
Para sahabat bertanya,“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?”
Nabi Saw menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.”
(Hadits diriwayatkan Imam Ahmad, 3: 120, 123, 230, 257 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah 347-353 dari jalur dari Humaid, dari Anas bin Malik. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat shahih Bukhari dan Muslim. Lihat pula Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1334, hal yang sama dikatakan oleh Syaikh Al-Albani).
Konsisten Bersama Jama’ah Dakwah Hingga Akhir Hayah
Bagian inilah yang harus dikelola dengan sangat berhati-hati. Menggelorakan semangat perjuangan di bagian awal adalah mudah. Namun bisa konsisten hingga akhir adalah hal berat dan tidak mudah. Fenomena “Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah” sudah kita baca berulang kali dari kitabnya Syaikh Fathi Yakan sejak ngaji melingkar dari tahun 1980an. Namun waktu yang panjang bisa mengubah segala hal.Karena kita tidak berjuang hanya dalam kurun waktu sesaat dan sementara saja.
Bergerak dalam amal jama’i adalah sampai akhir kehidupan, yang akan dilanjutkan oleh generasi penerus kita. Menjaga rasa cinta dalam waktu yang lama bukanlah hal mudah. Menjaga rasa percaya dalam waktu yang lama bukanlah hal sederhana. Menjaga kebersamaan dalam waktu yang panjang bukanlah hal gampang. Maka kita harus saling menguatkan dalam perjuangan dakwah, agar bisa istiqamah sampai akhir hayah. Agar selalu bersama jama’ah hingga akhir hidup yang indah. Agar selalu berada dalam barisan amal jama’i sampai mati.Karena amal justru dinilai di bagian akhir, bukan di awalnya.
Ya Allah, wafatkanlah kami kelak dalam kondisi mencintai dakwah, dalam kondisi istiqamah, dalam kondisi menetapi jama’ah, dalam kondisi husnul khatimah.
Aamiin.
(Oleh : Al Ustadz Cahyadi Takariawan)
Sepanjang sejarah dakwah, selalu ada kisah-kisah heroik, namun juga selalu ada kisah tragis yang menyertainya. Hal ini sejalan dengan logika sejarah kemanusiaan pada umumnya, bahwa akan selalu ada ketegaran namun juga ada keterjatuhan. Problem terbesar dalam pergerakan dakwah sebenarnya juga merupakan problem terbesar dalam sejarah anak manusia. Konsisten dan istiqomah dalam rentang waktu tertentu yang pendek adalah hal mudah. Namun untuk konsisten dan istiqomah dalam masa yang panjang adalah hal yang sangat berat dan tidak mudah. Disinilah paradoks mulai terjadi. Semangat juang yang tampak menggebu pada diri seorang aktivis bukanlah jaminan konsistensi dan kontinyuitas. Bahkan orang yang tampak memiliki amal perjuangan yang memukau dan mendapat pujian berkilau, tidak ada yang bisa memberi garansi tentang konsistensi.
Dakwah dan jama’ah yang semula demikian dibela dan dicintai, bisa ditinggalkan, dicela dan dinista pada penggal waktu berikutnya. Perjuangan dan pergerakan yang semula sangat dihormati dan dijunjung tinggi, bisa dicampakkan dan dicaci maki pada masa selanjutnya. Rasa cinta terhadap jama’ah dan dakwah yang dulu teramat besar, sekarang bisa luntur, hilang bahkan bisa berganti menjadi aroma kebencian dan dendam kesumat. Amal ditentukan di bagian Akhirnya. Yang sangat ‘mengerikan’ dalam menapaki perjuangan dakwah adalah konsisten hingga akhir. Karena amal justru dinilai pada bagian akhirnya. Bukan di awalnya.
Perhatikan kisah berikut.
Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi menceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw pernah melihat ada seseorang yang membunuh kaum musyrik. Ia salah satu prajurit Islam yang gagah berani. Namun Beliau Saw berkomentar, “Siapa yang ingin melihat penduduk neraka, lihatlah orang ini.” Seseorang segera mengikutinya, hingga prajurit tadi terluka dan tidak kuat menahan sakit. Tiba-tiba ia ambil ujung pedang dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hujamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.
Nabi Saw bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan perbuatan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka”.“Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya” (HR. Bukhari, no. 6493).
Dalam riwayat lain Nabi Saw bersabda :
wa innamal a'maalu bil khowaatiim
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada akhirnya”(HR. Bukhari, no. 6607).
Yang dimaksud ‘bil khowaatiim’ adalah amalan yang dilakukan di bagian akhir umurnya atau akhir hidupnya. Az-Zarqani dalam Syarh Al-Muwatha’ menyatakan bahwa amalan akhir manusia itulah yang menjadi penentu dan atas amalan itulah mereka akan dibalas. Orang yang dulunya beramal jelek lalu berubah melakukan amal baik di akhir hidupnya, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, orang yang dulunya penuh amal kebaikan, namun di akhir hidupnya justru melakukan amal keburukan, maka seperti bagian akhir itulah ia akan mendapat balasan.
Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (1: 173) memberi catatan atas hadits Sahl bin Sa’ad di atas, bahwa dari sinilah para ulama khawatir dengan keadaan su’ul khatimah, yaitu keadaan akhir hidup yang jelek. Dari Anas bin Malik Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek.“Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.”
Para sahabat bertanya,“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?”
Nabi Saw menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.”
(Hadits diriwayatkan Imam Ahmad, 3: 120, 123, 230, 257 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah 347-353 dari jalur dari Humaid, dari Anas bin Malik. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat shahih Bukhari dan Muslim. Lihat pula Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1334, hal yang sama dikatakan oleh Syaikh Al-Albani).
Konsisten Bersama Jama’ah Dakwah Hingga Akhir Hayah
Bagian inilah yang harus dikelola dengan sangat berhati-hati. Menggelorakan semangat perjuangan di bagian awal adalah mudah. Namun bisa konsisten hingga akhir adalah hal berat dan tidak mudah. Fenomena “Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah” sudah kita baca berulang kali dari kitabnya Syaikh Fathi Yakan sejak ngaji melingkar dari tahun 1980an. Namun waktu yang panjang bisa mengubah segala hal.Karena kita tidak berjuang hanya dalam kurun waktu sesaat dan sementara saja.
Bergerak dalam amal jama’i adalah sampai akhir kehidupan, yang akan dilanjutkan oleh generasi penerus kita. Menjaga rasa cinta dalam waktu yang lama bukanlah hal mudah. Menjaga rasa percaya dalam waktu yang lama bukanlah hal sederhana. Menjaga kebersamaan dalam waktu yang panjang bukanlah hal gampang. Maka kita harus saling menguatkan dalam perjuangan dakwah, agar bisa istiqamah sampai akhir hayah. Agar selalu bersama jama’ah hingga akhir hidup yang indah. Agar selalu berada dalam barisan amal jama’i sampai mati.Karena amal justru dinilai di bagian akhir, bukan di awalnya.
Ya Allah, wafatkanlah kami kelak dalam kondisi mencintai dakwah, dalam kondisi istiqamah, dalam kondisi menetapi jama’ah, dalam kondisi husnul khatimah.
Aamiin.
Senin, 29 Oktober 2018
sepenggal cuitan ttg kelasku.. Akuntansi Syariah 2012 B
Pasti semua yang berlalu akan mempunyai sesuatu yang berharaga dan
ada pula yang biasa aja. Semua memori yang kita lalui akan
terpatri dalam setiap otak manusia yang hidup di muka bumi ini. Yap, itu juga
yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswi yang belajar di kampus perjuangan ini
(Ceileehh mahasisswaa..XD ).
Emang sih… awal dari pertemuan itu canggung Satu dan
yang lainnya. Tapi, lama-kelamaan, karena Suatu keadaan yang mempertemukan satu
dan yang lainnya menjadi kita begitu seperti keluarga dekat hingga entah mengapa
ada salah satu dossen kami yang berkata bahwa, “kalian beda yang saya rasakan dengan
kelas yang lain saya ajarkan, kalian seperti kakak-adik di kelas ini.
Bukan persaingan atau pun permusuhan
yang terjadi seperti kelas atau pun kampus-kampus lainnya. Saya merasa kan suasana
yang nyaman dari kelas lainnya”.
Wahh… kami tersanjung sejak kami di bilang seperti
itu. Tapi, kenyataannya kami bukanlah manusia yang sempurna dan pasti banyak kesalahan
dan khilaf yang biasa terjadi di muka bumi ini.
Sampai saat dimana kami menerapkan bahwa “sedekah adalah memberikan
sebagian harta kita untuk sesame manusia yang lebih membutuhkan dan lebih bermanfaat.
Selain itu, dapat mendekatkan diri kepada sang Maha Kuasa yang telah menciptakan
segala ornamen-ornamen bumi dan langit hingga alam semesta yang di luar perkiraan
dan pemahaman manusia yang terbatas.” Subhannnallah… indahnya setiap detik kehidupan untuk kita tetap bersyukur di
dalam tubuh manusia ini.
curahan hati seorang jomblo kala itu...
14 desember 2013
Hari ini malam minggu yang biasa dari malem-malem
sebelumnya. Maklum jomblo yang ga peka dan suka cuek sendiri. Tapi prinsipku
aku tidak mau pacaran sebelum halal dan jelas jodohku itu *aseegh. Kata orang,
prinsip yang sudah dijalankan jangan sampe setengah-setengah ngejalaninnya.
Walhasil, yah ini aku sekarang yang masih ingin menikmati kebebasan yang sedang
aku lakukan dengan sesuka hati aku ini.
Tapi sometimes aku kangen dengan suasana yang
berbeda dari biasanya. Aku ingin dekat dengan keluarga dan bisa sharing apapun
kepada mereka. Yaah emang paling the best itu dekat keluarga dan di
rumah tercinta J.
Aku hampa. Aku sedang tidak merasakan apapun. Aku
telah mati. Tapi aku harus bangkit. Demi masa depanku yang cerah dan indah yang
telah terlukiskan untukku dari Sang Maha Pencipta ;)
Pengalamanku waktu jadi Pengawas UN anak SMA di Jawa Barat
14
april 2013
Pukul
05.00. waktunya bangun seluruh anak asrama di kampusku ini. Pagi ini aku bangun
dari tidurku. Aku bangun dan diam sejenak seperti biasa.. mengumpulkan nyawa
yang sedang ilang satu persatu dari tubuhku ini. Aku bangun kemudian aku sholat
shubuh dan langsung al-ma’tsuratan bareng dengan anak-anak asrama laiinyya
seperti sedia kala. Setelahnya. Aku tertidur setelah al-ma’tsuratan
setengahnya. Huff. Lagi-lagi kebiasaan burukku. Tidur dn tidur. Hehehe..
Pukul
7.30. aku mendapat sms bahwa aku harus menemui ka ju’ih di masjid yarmuk.
Langsunglah sya bergegas mandi. Dikarenakan hari itu aku harus bergegas ke
sekolah untuk menjadi tim independent di daerah tangerang. Stelah berbincang
panjang dengan kaka ju’ih. Sayapun kembali ke asram. Hari itupun di kampus saya
ada event gebyar muslimah dan hari itu adalah lombanya. Permentoringpun
mempersiapkan salah satu anggotanya untuk mengikuti lomba tersebut. Dan
mentoring aku yag sebenarnya jadi modelnya adalah RIa, tapi, dia masih setengah
hati untuk menjalaninya. Walhasil. Akulah yang jadi model peragaan busana daur
ulang show-show-show. Hehe. Dengan penuh percaya diri sekaligus gugup. Akupun
mengikuti peragaan busana tersebut.
Seperti
layaknya cerita Cinderella. Jam 12 teng! (bedanya ini di siang bolong, hehe :D)
Akupun di melepaskan gaun busana daur ulang tersebut. Karena sang pangeran
alias para ikhwan yang barengan sama aku ke tangerang. Menunggu.Awalnya aku
canggung dengan ka imron, karena ia baru dan akupun baru tau ternyata dia anak
Balikpapan. Hedeeh..
Kamipun
menyetop angkot, ke parung. Mencari bus ke kebon nanas. Dan menaikinya. Setelah
sampe di kebon nanas, kamipun menaiki bus selanjutnya menuju balaraja. Kami
bertanya ke pada orang di dalam bus tersebut di mana MAN Balaraja, tempat kami
bertemu sang coordinator pengawas independent. Alhamdullillahnya, kami tak
nyasar, berkat aku bertanya pada pedagang asongan di dalam bus. Sesuatuu bedts
daahh :D
Sesampainya,
kami bertemu pihak sekolah, lalu kamipun berkenalan. Dan bertanya system kami
menginap. Dan finally, kami para akhwat untuk sementara selama 4 hari di rumah
ibu ade. Ibu guru/staff yang berkerja di sekolah tersebut. Dan para ikhwannya
yang miris, mereka tidur di musolla masjid sekolahan. Tapi kata mereka, mereka
biasa saja. Karena mereka adalah anak-anak beasiswa kader surau.. -___-a . kami
(para akhwat) di anter ke rumah ibu ade tersebut. Dan beres-beres, lalu
tiduuur.. dan tepaar…
15
April 2013
Hari
ini, hari pertama aku mengawasi sekolah yang mau kami awasi. Kami pun bangun
pagi sekitar jam 4-an. Lalu akupun smpat-sempatnya ngeTwit dulu di twit
*yaeyalaah…
di hari ini, aku semangat dalam menjalani tugas pertamaku.. kami sedikit gugup,
tapi itu biasalaah…
Minggu, 30 September 2018
Ceritaku waktu ikut lomba hijab fest saat Kuliah~
Biodata
Nama
: Shabrina Manarul Firdaus
: Shabrina Manarul Firdaus
Alamat
: Jalan parung kulon kelurahan duren mekar kecamatan bojongsari RT.004 RW.06 Nomer 10, Depok, Jawa Barat
TTL
: Balikpapan, 6 April 1995
Status
: Mahasiswa
Email/FB/Twitter/Instagram
: luminarygreck@rocketmail.com /Shabrina Manarul Firdaus/@shabreenastatik/Shabreenastatik
No. Hp/whatsApp/Pin BB
: 085247830346 / 76A09371
Kegiatan
: Mahasiswi di Kampus STEI SEBI, depok.
Staff Sekretaris Kementrian Kesejahteraan Mahasiswa BEM SEBI
Komentar Aku Tentang Hijab:
Hijab
merupakan bagian yang harus dikenakan dalam setiap umat muslim yang terkhusus
wanita. Islam sudah jelas mengatur hijab/jilbab tersebut dapat melindungi
seorang wanita dari hal-hal yang negative. Diterangkan dalam QS. An-Nur: 31.
Disitu sudah jelas bahwa wanita muslimah harus menjaga pandangannya dan
menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkannya kecuali yang
biasa Nampak dari padanya.
Kisahku awal memakai jilbab waktu Sekolah Dasar, dari kelas 1 SD aku sudah memakai jibab. Yah, karena sekolahku swasta, jadi diwajibkan memakai jilbab. Walaupun pada pulang sekolah aku membukanya karena kepanasan. Aku memakai jilbab secara berlanjut hingga aku Sekolah Menengah Pertama dan Atas. Aku berusaha istiqomah mempertahankan jilbab yang sudah diajarkan orang tua aku dari kecil. Hingga sekarang, aku insya Allah selalu istiqomah.
Hijab
menurut pandangan aku adalah hijab yang menutupi aurat kepala hingga dada.
Sehingga dada seorang wanita tak diumbar menonjol. Paradigma manusia muslimah
sekarang tidak memahami bagaimana cara memakai hijab yang baik dan benar. Emang
sudah menutupi, tapi belum syar’i. ini menurut aku yang perlu mengubah pola
pikir muslimah di dunia. Saya memiliki kreasi hijab yang syar’I tidak nerawang
dan menutupi hingga sampai ke dada seorang muslimah. Seperti berikut:
Hijab ini aku beri nama
Shabreenastatik, yang artinya Shabrina Fantastik. Model ini bisa digunakan
ketika ada acara/pesta maupun sehari-hari untuk ke kampus atau jalan-jalan. So,
model ini sangat fleksibel. ^ ^
Kamis, 02 November 2017
Nikmatnya Berkendaraan
Pada
masa silam, manusia bepergian dengan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat
yang lain dengan membawa barang atau perbekalan di atas punggungnya. Sebagian
yang lain bepergian dengan menunggang hewan tunggangan sambil membawa berbagai
muatan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala
وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلا بِشِقِّ الأنْفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (٧)وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لا تَعْلَمُونَ
“Dan
ia (hewan ternak) mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak
sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Rabbmu Maha Pengasih,
Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai untuk kamu
tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu
ketahui.” (QS. An-Nahl: 7-8)
Adapun
di masa sekarang, begitu mudahnya seseorang untuk bepergian dari satu tempat ke
tempat yang lain dalam waktu cepat tanpa banyak mengeluarkan tenaga dan
pikiran, walaupun terkadang tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan.
Kendaraan
sebagai bukti kasih sayang Allah
Kendaraan
merupakan salah satu nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan
kepada manusia. Hal ini juga sebagai bukti curahan kasih sayang Allah Ta’ala kepada
para makhluk-Nya. Hal ini karena segala nikmat yang kita terima atau musibah
yang kita terhindar darinya merupakan tanda kasih sayang Allah Ta’ala kepada
kita. Allah Ta’ala berfirman
وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (٤١)وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (٤٢)
“Dan
suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka
dalam perahu yang penuh muatan, dan Kami ciptakan bagi mereka (angkutan lain) seperti
apa yang mereka kendarai.” (QS. Yasin: 41-42)
Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata ketika
menjelaskan ayat di atas, “Tanda dalam ayat tersebut maksudnya adalah
tanda kekuasaan Allah. Namun, di dalamnya juga terdapat tanda yang lain, yaitu
rahmat Allah kepada makhluk, serta kenikmatan yang diberikan kepada kita.” Selanjutnya
beliaujuga menerangkan bahwa ayat tersebut menjadi dalil atas kekuasaan
Allah Ta’ala, rahmat, dan karunia-Nya bagi kita, yaitu dengan
adanya perahu untuk mengarungi lautan menuju ke tempat yang lain, mengangkut
manusia, hewan-hewan ternak, dan semua yang bermanfaat untuk kita. Dan
Allah Ta’ala menjadikan perahu tersebut nyaman untuk
dikendarai sebagai nikmat bagi kita semua.
Ayat
di atas juga menerangkan nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan
kepada manusia berupa pengetahuan mengenai tata cara pembuatan perahu.
Seandainya tidak ada perahu, tentunya seseorang tidak akan mampu menyeberang
sungai dan lautan untuk menuju tempat tujuannya. Namun, Allah Ta’ala memberi
pengetahuan tentang tata cara membuatnya, sehingga seseorang dapat menjangkau
tempat tujuannya tersebut.
Allah Ta’ala mengajarkan
manusia cara membuatnya
Keahlian
manusia dalam memproduksi suatu kendaraan canggih bukanlah semata-mata karena
kecerdasannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menunjang
kemajuan berbagai alat transportasi masa kini, tidak lain karena karunia yang
Allah Ta’alaberikan kepada kita. Jika bukan karena kehendak
Allah Ta’ala atas makhluk-Nya untuk memahami ilmu-ilmu tersebut,
tentu manusia tidak akan mampu memanfaatkan seonggok besi untuk membawa dirinya
ke suatu tempat tujuan. Bahkan Allah Ta’ala mengajarkan ilmu
tersebut kepada manusia agar dapat diterapkan.
Allah Ta’ala berfirman
وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ
“Dan
kami angkut Nuh ke atas (perahu) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al Qomar:
13)
Dalam
ayat ini Allah Ta’ala tidak langsung menyebut “perahu”, namun
menyebutnya sebagai “sesuatu yang terbuat dari papan dan paku”. Hal ini
mengisyaratkan adanya pengajaran dari Allah Ta’ala kepada
manusia tentang bahan baku pembuatan perahu. Seakan-akan AllahTa’ala mengabarkan
bahwa perahu Nabi Nuh ‘alaihissalam terbuat dari papan dan
paku agar menjadi contoh bagi manusia untuk membuatnya.
Allah Ta’ala menisbatkan
pembuatan perahu kepada diri-Nya seperti dalam ayat (yang artinya), “Kami
ciptakan untuk manusia semisal (perahu Nuh ‘alaihis salam) …”. Padahal
perahu tersebut dibuat oleh manusia (Nabi Nuh ‘alaihis salam),
bukan diciptakan oleh AllahTa’ala sebagaimana Dia menciptakan unta
yang kita tunggangi, kuda, dan yang serupa dengannya. Hal ini dikarenakan
Allah-lah yang mengajari manusia tata cara membuat perahu.
Ketika
nikmat berkendaraan terlupakan
Sering
kali manusia menganggap rumput tetangga jauh lebih hijau sehingga membuatnya
merasa perlu memiliki sesuatu seperti milik si tetangga. Orang yang hanya
memiliki sepeda akan terbetik dalam benaknya suatu angan-angan untuk memiliki
sepeda motor sebagaimana yang dikendarai oleh kebanyakan orang. Namun, bagi yang
telah memiliki sepeda motor, mungkin dia juga berangan-angan untuk memiliki
sepeda motor yang lebih bagus atau malah sebuah mobil yang dapat melindunginya
dari terik matahari dan hujan, demikian seterusnya. Obsesi tersebut dapat
menjadi bencana berupa lenyapnya kebaikan demi kebaikan sebagaimana lenyapnya
kayu bakar yang dilahap api, apabila diiringi dengan harapan hilangnya
kenikmatan tersebut dari tangan orang lain. Itulah hasad yang terlarang.
Untuk
mencegah hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telahmemperingatkan
umatnya agar tidak duduk-duduk di pinggir jalan. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallambersabda,
إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ
“Tinggalkanlah
oleh kalian duduk-duduk di jalan-jalan”. Maka para sahabat
berkata, “Kami tidak bisa untuk tidak duduk-duduk di jalan-jalan karena
di sanalah tempat kami berbincang-bincang.” Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian menolak untuk tidak
duduk-duduk di sana, maka tunaikanlah hak jalan.” Mereka berkata, “Apakah
hak jalan itu?”Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan,
menyingkirkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan yang baik dan mencegah
kemungkaran.” (HR. Al-Bukhari)
Menundukkan
pandangan di sini maksudnya adalah menjaga diri dari memandang hal-hal yang
diharamkan, termasuk di dalamnya berupa memandang kemewahan-kemewahan duniawi,
misalnya kendaraan-kendaraan mewah yang lewat. Sehingga menyebabkan seseorang
menjadi panjang angan-angan, dan tidak mampu mensyukuri nikmat yang AllahTa’ala karuniakan
untuknya.
Ketika
orang musyrik zaman dahulu dan sekarang tertimpa marabahaya saat berkendaraan
Orang
musyrik zaman dahulu, mereka memohon kepada Allah Ta’ala dengan
penuh keikhlasan ketika kondisi genting meliputi dirinya saat berkendaraan.
Bahkan orang musyrik zaman dulu, yang tadinya menyekutukan Allah Ta’ala,
dengan serta-merta mereka meninggalkan sesembahan selain Allah demi mengharap
pertolongan Allah atas marabahaya yang menimpa mereka ketika berkendara di lautan.
Hal ini Allah Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya
وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإنْسَانُ كَفُورًا
“Dan
apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu
seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu
berpaling (dari-Nya).”(QS. Al-Isra: 67)
Seperti
inilah keadaan orang-orang musyrik zaman dahulu saat tertimpa kesulitan ketika
naik kapal atau perahu di tengah lautan. Mereka mengikhlaskan ibadah hanya
kepada Allah Ta’aladan mengetahui bahwasanya Allah-lah satu-satunya
yang bisa menyelamatkan mereka serta tidak ada sesembahan yang berhak disembah
selain-Nya. Namun, manakala kondisi telah lapang (selamat sampai daratan),
mereka pun kembali menyekutukan Allah dengan sesembahan mereka.
Adapun
orang-orang musyrik zaman sekarang ini, sama saja bagi mereka antara kondisi
susah ataupun senang, mereka senantiasa melakukan kemusyrikan. Bahkan ketika
marahabahaya menimpa mereka ketika naik perahu atau kapal di lautan, semakin
parah-lah kemusyrikan yang mereka lakukan dengan meminta pertolongan kepada
sesembahan mereka selain Allah Ta’ala. Dan lebih-lebih lagi
ketika selamat sampai daratan, mereka akan semakin mengagungkan sesembahan
mereka -selain Allah- yang mereka yakini telah menyelamatkan mereka. Kondisi
seperti ini disebabkan karena ketidakfahaman serta kebodohan akan hakikat
tauhid yang melingkupi kebanyakan manusia zaman sekarang, wal ’iyaadzu
billah.
Mensyukuri
nikmat-Nya
Kendaraan
yang kita gunakan sebagai fasilitas untuk dapat pergi ke suatu tempat merupakan
suatu nikmat yang sepatutnya kita syukuri. Rasa syukur hamba terhadap Rabb yang
telah memberinya karunia ditunjukkan melalui lisan berupa pujian dan sanjungan,
dan juga melalui anggota badan dengan menundukkannya dalam ketaatan kepada
Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba
yang paling bersyukur, beliau memberikan keteladanan bagi umatnya ketika
berkendaraan yaitu dengan:
1.
Berdoa ketika naik kendaraan
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berdoa
(سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَـهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ) اَلْحَمْدُ لِلََّهِ اَلْحَمْدُ لِله اَلْحَمْدُ لِلََّهِ اَلْحَمْدُ لِله ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ، سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Dengan
nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan
ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan
sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (pada hari kiamat). Segala puji
bagi Allah (3x), Allah Maha Besar (3x), Maha Suci Engkau, ya Allah!
Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada
yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”(HR. Abu Dawud dan
Tirmidzi)
Doa
ini mengandung sanjungan kepada Allah Ta’ala yang telah
menjadikan kendaraan tersebut dapat dikendarai, padahal sebelumnya manusia
tidak memiliki kemampuan untuk mengendarainya. Di dalam doa ini juga terkandung
pengakuan bahwasanya kita akan kembali kepada Allah pada hari kiamat, serta
pengakuan atas kelalaian dan dosa yang telah kita lakukan.
2.
Bertakbir dan bertasbih selama perjalanan
Jabir radhiyallahu
‘anhu berkata, “Kami bertakbir ketika melewati jalan yang
naik, dan bertasbih ketika melewati jalan yang turun”. (HR. Al-Bukhari)
Maksudnya adalah ketika menaiki tempat-tempat yang tinggi mengucapkan: “Allahu
Akbar”, dan ketika menuruni tempat-tempat yang lebih rendah
mengucapkan: “Subhanallah”. Bertakbir manakala menaiki tempat yang
tinggi akan membuat kita merasakan kebesaran Allah Ta’ala serta
keagungan-Nya. Sedangkan bertasbih ketika menuruni tempat yang rendah akan
membuat kita merasakan kesucian Allah Ta’ala dari segala
kekurangan.
3.
Berdoa ketika kendaraan tergelincir
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam melarang kita mengumpat setan ketika tergelincir dan
mengajarkan kita untuk mengucapkan, “bismillah”. Usamah bin ‘Umair radhiyallahu
‘anhumenceritakan, “Aku pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam lantas tunggangannya tergelincir, maka aku berkata, ‘tergelincirlah
setan.’ Maka Nabi berkata, ‘Janganlah kamu katakan tergelincirlah
setan. Jika kamu berkata demikian, dia (setan) akan membesar hingga
sebesar rumah, dan berkata, ‘Dengan kekuatanku.’ Akan tetapi katakanlah,
‘bismillah’. Jika kamu berkata demikian, dia akan mengecil hingga sekecil
lalat.’” (HR. Abu Dawud) Menyebut nama Allah Ta’ala akan
meleburkan setan sebagaimana air meleburkan garam.
4.
Membebani kendaraan sesuai daya angkut
Di
antara adab berkendaraan adalah dibolehkannya berkendaraan dengan beberapa
penumpang selama tidak melebihi daya angkut kendaraan tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memboncengkan
sebagian sahabatnya seperti Mu’adz, Usamah, Al-Fudhail, begitu juga
memboncengkan ‘Abdullah bin Ja’far dan Hasan atau Husain bersama-sama, semoga
Allah Ta’ala meridhai mereka semua.
Membebani
kendaraan melebihi daya angkut yang telah ditetapkan merupakan suatu bentuk
kedzaliman. Hal ini akan menyebabkan rusaknya kendaraan dan ini merupakan
bentuk penyia-nyiaan harta.
5.
Tidak menjadikan kendaraan semata-mata sebagai tempat duduk
Terdapat
hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah
kalian menjadikan punggung-punggung hewan tunggangan kalian sebagai mimbar
(semata-mata sebagai tempat duduk). Sesungguhnya Allah menundukkannya untuk
kalian supaya mengantarkan ke negeri yang belum pernah kalian capai kecuali
dengan bersusah payah. Dan Allah menciptakan bumi untuk kalian, maka hendaklah
kalian tunaikan kebutuhan kalian di atas tanah”. (HR. Abu Dawud)
Maksud
dari hadits ini adalah larangan untuk duduk-duduk dan berbincang-bincang dalam
rangka jual beli atau yang selainnya di atas kendaraan (berupa hewan) yang
sedang berhenti. Hendaknya seseorang menunaikan keperluannya dengan cara turun
dari kendaraan dan mengikatnya di tempat yang semestinya.
Adapun
berdirinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas hewan
tunggangan beliau saat Haji Wada’ adalah demi kemaslahatan yang besar. Hal ini
supaya khutbah beliau kepada para manusia mengenai perkara-perkara Islam serta
hukum-hukum yang terkait ibadah dapat didengar dengan jelas oleh
sahabat-sahabat beliau ketika itu. Apalagi, perbuatan beliau tersebut juga
tidak dilakukan secara terus-menerus sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul
Qayyim rahimahullah, sehingga hal ini tidak membuat hewan
tunggangan merasa letih dan bosan. Berbeda dengan sekedar duduk-duduk dan
berbincang-bincang di atas hewan tunggangan yang sedang berhenti tanpa ada
maslahat, dalam waktu lama, dan dilakukan berulang-ulang maka dapat menyebabkan
hewan tunggangan merasa letih dan bosan.
Kendaraan
pada zaman ini tidak bisa disamakan dengan hewan tunggangan yang dapat merasa
letih dan bosan. Meskipun demikian, tidak selayaknya seorang pengendara
duduk-duduk dan berbincang-bincang di atas kendaraannya yang sedang berhenti
karena akan mengganggu serta menyusahkan pengguna jalan yang lain. Berhenti di
sembarang tempat juga akan mempersempit jalan yang seharusnya dapat
dipergunakan oleh pengguna jalan yang lain. Allah Ta’ala berfirman
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan
orang-orang yang menyakiti kaum mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka
perbuat maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab:
58)
6.
Memandang kendaraan yang lebih rendah
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada umatnya bagaimana cara
memperkuat rasa syukur atas berbagai nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan,
yaitu dengan selalu memandang orang-orang yang berada di bawahnya dalam akal,
nasab (keturunan), harta, dan berbagai nikmat. Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ
“Lihatlah
orang yang lebih rendah dari kalian, dan jangan melihat orang yang di atas
kalian. Itu lebih layak untuk kalian agar tidak memandang hina nikmat yang
Allah anugerahkan kepada kalian.” (HR. Muslim)
Demikianlah
paparan ringkas yang dapat kami tuliskan. Semoga kita dapat mengambil
keteladanan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hanya kepada Allah-lah kita mohon
pertolongan.
Referensi:
- Tafsir Al-Quran Al-Karim Surat Yasin hal 150-155, Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Dar Ats-Tsurayya.
- Bahjah Qulub Al-Abrar hal 66, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir
As-Sa’di, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
- Kitab Al-Adab hal 301-304, Fuad bin ‘Abdil ‘Aziz Asy Syalhubi, Dar Al-Qosam.
- Syarh Kitab Al-Qawa’id Al-Arba’ hal 22-23, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Dar
As-Salafiyyah.
- Syarh Hishnul Muslim hal 292, 298, 301, Majdi bin ‘Abdil Wahhab
Ahmad, Muassasah Al-Jaraysi Littauzi’ wal-I’lan.
***
Penulis:
Ummu ‘Ubaidillah
Artikel
Buletin Zuhairoh
Dipublikasi
ulang oleh www.muslimah.or.id
Langganan:
Postingan (Atom)