Kamis, 02 November 2017

Nikmatnya Berkendaraan


Pada masa silam, manusia bepergian dengan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain dengan membawa barang atau perbekalan di atas punggungnya. Sebagian yang lain bepergian dengan menunggang hewan tunggangan sambil membawa berbagai muatan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala
وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلا بِشِقِّ الأنْفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (٧)وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لا تَعْلَمُونَ
“Dan ia (hewan ternak) mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Rabbmu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. An-Nahl: 7-8)
Adapun di masa sekarang, begitu mudahnya seseorang untuk bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu cepat tanpa banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran, walaupun terkadang tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan.
Kendaraan sebagai bukti kasih sayang Allah
Kendaraan merupakan salah satu nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Hal ini juga sebagai bukti curahan kasih sayang Allah Ta’ala kepada para makhluk-Nya. Hal ini karena segala nikmat yang kita terima atau musibah yang kita terhindar darinya merupakan tanda kasih sayang Allah Ta’ala kepada kita. Allah Ta’ala berfirman
وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (٤١)وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (٤٢)
“Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam perahu yang penuh muatan, dan Kami ciptakan bagi mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai.” (QS. Yasin: 41-42)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas, “Tanda dalam ayat tersebut maksudnya adalah tanda kekuasaan Allah. Namun, di dalamnya juga terdapat tanda yang lain, yaitu rahmat Allah kepada makhluk, serta kenikmatan yang diberikan kepada kita.” Selanjutnya beliaujuga menerangkan bahwa ayat tersebut menjadi dalil atas kekuasaan Allah Ta’ala, rahmat, dan karunia-Nya bagi kita, yaitu dengan adanya perahu untuk mengarungi lautan menuju ke tempat yang lain, mengangkut manusia, hewan-hewan ternak, dan semua yang bermanfaat untuk kita. Dan Allah Ta’ala menjadikan perahu tersebut nyaman untuk dikendarai sebagai nikmat bagi kita semua.
Ayat di atas juga menerangkan nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia berupa pengetahuan mengenai tata cara pembuatan perahu. Seandainya tidak ada perahu, tentunya seseorang tidak akan mampu menyeberang sungai dan lautan untuk menuju tempat tujuannya. Namun, Allah Ta’ala memberi pengetahuan tentang tata cara membuatnya, sehingga seseorang dapat menjangkau tempat tujuannya tersebut.
Allah Ta’ala mengajarkan manusia cara membuatnya
Keahlian manusia dalam memproduksi suatu kendaraan canggih bukanlah semata-mata karena kecerdasannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menunjang kemajuan berbagai alat transportasi masa kini, tidak lain karena karunia yang Allah Ta’alaberikan kepada kita. Jika bukan karena kehendak Allah Ta’ala atas makhluk-Nya untuk memahami ilmu-ilmu tersebut, tentu manusia tidak akan mampu memanfaatkan seonggok besi untuk membawa dirinya ke suatu tempat tujuan. Bahkan Allah Ta’ala mengajarkan ilmu tersebut kepada manusia agar dapat diterapkan.
Allah Ta’ala berfirman
وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ
“Dan kami angkut Nuh ke atas (perahu) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al Qomar: 13)
Dalam ayat ini Allah Ta’ala tidak langsung menyebut “perahu”, namun menyebutnya sebagai “sesuatu yang terbuat dari papan dan paku”. Hal ini mengisyaratkan adanya pengajaran dari Allah Ta’ala kepada manusia tentang bahan baku pembuatan perahu. Seakan-akan AllahTa’ala mengabarkan bahwa perahu Nabi Nuh ‘alaihissalam terbuat dari papan dan paku agar menjadi contoh bagi manusia untuk membuatnya.
Allah Ta’ala menisbatkan pembuatan perahu kepada diri-Nya seperti dalam ayat (yang artinya), “Kami ciptakan untuk manusia semisal (perahu Nuh ‘alaihis salam) …”. Padahal perahu tersebut dibuat oleh manusia (Nabi Nuh ‘alaihis salam), bukan diciptakan oleh AllahTa’ala sebagaimana Dia menciptakan unta yang kita tunggangi, kuda, dan yang serupa dengannya. Hal ini dikarenakan Allah-lah yang mengajari manusia tata cara membuat perahu.
Ketika nikmat berkendaraan terlupakan
Sering kali manusia menganggap rumput tetangga jauh lebih hijau sehingga membuatnya merasa perlu memiliki sesuatu seperti milik si tetangga. Orang yang hanya memiliki sepeda akan terbetik dalam benaknya suatu angan-angan untuk memiliki sepeda motor sebagaimana yang dikendarai oleh kebanyakan orang. Namun, bagi yang telah memiliki sepeda motor, mungkin dia juga berangan-angan untuk memiliki sepeda motor yang lebih bagus atau malah sebuah mobil yang dapat melindunginya dari terik matahari dan hujan, demikian seterusnya. Obsesi tersebut dapat menjadi bencana berupa lenyapnya kebaikan demi kebaikan sebagaimana lenyapnya kayu bakar yang dilahap api, apabila diiringi dengan harapan hilangnya kenikmatan tersebut dari tangan orang lain. Itulah hasad yang terlarang.
Untuk mencegah hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telahmemperingatkan umatnya agar tidak duduk-duduk di pinggir jalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ
“Tinggalkanlah oleh kalian duduk-duduk di jalan-jalan”. Maka para sahabat berkata, “Kami tidak bisa untuk tidak duduk-duduk di jalan-jalan karena di sanalah tempat kami berbincang-bincang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian menolak untuk tidak duduk-duduk di sana, maka tunaikanlah hak jalan.” Mereka berkata, “Apakah hak jalan itu?”Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan yang baik dan mencegah kemungkaran.” (HR. Al-Bukhari)
Menundukkan pandangan di sini maksudnya adalah menjaga diri dari memandang hal-hal yang diharamkan, termasuk di dalamnya berupa memandang kemewahan-kemewahan duniawi, misalnya kendaraan-kendaraan mewah yang lewat. Sehingga menyebabkan seseorang menjadi panjang angan-angan, dan tidak mampu mensyukuri nikmat yang AllahTa’ala karuniakan untuknya.
Ketika orang musyrik zaman dahulu dan sekarang tertimpa marabahaya saat berkendaraan
Orang musyrik zaman dahulu, mereka memohon kepada Allah Ta’ala dengan penuh keikhlasan ketika kondisi genting meliputi dirinya saat berkendaraan. Bahkan orang musyrik zaman dulu, yang tadinya menyekutukan Allah Ta’ala, dengan serta-merta mereka meninggalkan sesembahan selain Allah demi mengharap pertolongan Allah atas marabahaya yang menimpa mereka ketika berkendara di lautan. Hal ini Allah Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya
وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإنْسَانُ كَفُورًا
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya).”(QS. Al-Isra: 67)
Seperti inilah keadaan orang-orang musyrik zaman dahulu saat tertimpa kesulitan ketika naik kapal atau perahu di tengah lautan. Mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Ta’aladan mengetahui bahwasanya Allah-lah satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka serta tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya. Namun, manakala kondisi telah lapang (selamat sampai daratan), mereka pun kembali menyekutukan Allah dengan sesembahan mereka.
Adapun orang-orang musyrik zaman sekarang ini, sama saja bagi mereka antara kondisi susah ataupun senang, mereka senantiasa melakukan kemusyrikan. Bahkan ketika marahabahaya menimpa mereka ketika naik perahu atau kapal di lautan, semakin parah-lah kemusyrikan yang mereka lakukan dengan meminta pertolongan kepada sesembahan mereka selain Allah Ta’ala. Dan lebih-lebih lagi ketika selamat sampai daratan, mereka akan semakin mengagungkan sesembahan mereka -selain Allah- yang mereka yakini telah menyelamatkan mereka. Kondisi seperti ini disebabkan karena ketidakfahaman serta kebodohan akan hakikat tauhid yang melingkupi kebanyakan manusia zaman sekarang, wal ’iyaadzu billah.
Mensyukuri nikmat-Nya
Kendaraan yang kita gunakan sebagai fasilitas untuk dapat pergi ke suatu tempat merupakan suatu nikmat yang sepatutnya kita syukuri. Rasa syukur hamba terhadap Rabb yang telah memberinya karunia ditunjukkan melalui lisan berupa pujian dan sanjungan, dan juga melalui anggota badan dengan menundukkannya dalam ketaatan kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba yang paling bersyukur, beliau memberikan keteladanan bagi umatnya ketika berkendaraan yaitu dengan:
1. Berdoa ketika naik kendaraan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berdoa
(سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَـهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ) اَلْحَمْدُ لِلََّهِ اَلْحَمْدُ لِله اَلْحَمْدُ لِلََّهِ اَلْحَمْدُ لِله ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ، سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (pada hari kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Allah Maha Besar (3x), Maha Suci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Doa ini mengandung sanjungan kepada Allah Ta’ala yang telah menjadikan kendaraan tersebut dapat dikendarai, padahal sebelumnya manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengendarainya. Di dalam doa ini juga terkandung pengakuan bahwasanya kita akan kembali kepada Allah pada hari kiamat, serta pengakuan atas kelalaian dan dosa yang telah kita lakukan.
2. Bertakbir dan bertasbih selama perjalanan
Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertakbir ketika melewati jalan yang naik, dan bertasbih ketika melewati jalan yang turun”. (HR. Al-Bukhari) Maksudnya adalah ketika menaiki tempat-tempat yang tinggi mengucapkan: “Allahu Akbar”, dan ketika menuruni tempat-tempat yang lebih rendah mengucapkan: “Subhanallah”. Bertakbir manakala menaiki tempat yang tinggi akan membuat kita merasakan kebesaran Allah Ta’ala serta keagungan-Nya. Sedangkan bertasbih ketika menuruni tempat yang rendah akan membuat kita merasakan kesucian Allah Ta’ala dari segala kekurangan.
3. Berdoa ketika kendaraan tergelincir
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mengumpat setan ketika tergelincir dan mengajarkan kita untuk mengucapkan, “bismillah”. Usamah bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhumenceritakan, “Aku pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tunggangannya tergelincir, maka aku berkata, ‘tergelincirlah setan.’ Maka Nabi berkata, ‘Janganlah kamu katakan tergelincirlah setan. Jika kamu berkata demikian, dia (setan) akan membesar hingga sebesar rumah, dan berkata, ‘Dengan kekuatanku.’ Akan tetapi katakanlah, ‘bismillah’. Jika kamu berkata demikian, dia akan mengecil hingga sekecil lalat.’” (HR. Abu Dawud) Menyebut nama Allah Ta’ala akan meleburkan setan sebagaimana air meleburkan garam.
4. Membebani kendaraan sesuai daya angkut
Di antara adab berkendaraan adalah dibolehkannya berkendaraan dengan beberapa penumpang selama tidak melebihi daya angkut kendaraan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memboncengkan sebagian sahabatnya seperti Mu’adz, Usamah, Al-Fudhail, begitu juga memboncengkan ‘Abdullah bin Ja’far dan Hasan atau Husain bersama-sama, semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semua.
Membebani kendaraan melebihi daya angkut yang telah ditetapkan merupakan suatu bentuk kedzaliman. Hal ini akan menyebabkan rusaknya kendaraan dan ini merupakan bentuk penyia-nyiaan harta.
5. Tidak menjadikan kendaraan semata-mata sebagai tempat duduk
Terdapat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah kalian menjadikan punggung-punggung hewan tunggangan kalian sebagai mimbar (semata-mata sebagai tempat duduk). Sesungguhnya Allah menundukkannya untuk kalian supaya mengantarkan ke negeri yang belum pernah kalian capai kecuali dengan bersusah payah. Dan Allah menciptakan bumi untuk kalian, maka hendaklah kalian tunaikan kebutuhan kalian di atas tanah”. (HR. Abu Dawud)
Maksud dari hadits ini adalah larangan untuk duduk-duduk dan berbincang-bincang dalam rangka jual beli atau yang selainnya di atas kendaraan (berupa hewan) yang sedang berhenti. Hendaknya seseorang menunaikan keperluannya dengan cara turun dari kendaraan dan mengikatnya di tempat yang semestinya.
Adapun berdirinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas hewan tunggangan beliau saat Haji Wada’ adalah demi kemaslahatan yang besar. Hal ini supaya khutbah beliau kepada para manusia mengenai perkara-perkara Islam serta hukum-hukum yang terkait ibadah dapat didengar dengan jelas oleh sahabat-sahabat beliau ketika itu. Apalagi, perbuatan beliau tersebut juga tidak dilakukan secara terus-menerus sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, sehingga hal ini tidak membuat hewan tunggangan merasa letih dan bosan. Berbeda dengan sekedar duduk-duduk dan berbincang-bincang di atas hewan tunggangan yang sedang berhenti tanpa ada maslahat, dalam waktu lama, dan dilakukan berulang-ulang maka dapat menyebabkan hewan tunggangan merasa letih dan bosan.
Kendaraan pada zaman ini tidak bisa disamakan dengan hewan tunggangan yang dapat merasa letih dan bosan. Meskipun demikian, tidak selayaknya seorang pengendara duduk-duduk dan berbincang-bincang di atas kendaraannya yang sedang berhenti karena akan mengganggu serta menyusahkan pengguna jalan yang lain. Berhenti di sembarang tempat juga akan mempersempit jalan yang seharusnya dapat dipergunakan oleh pengguna jalan yang lain. Allah Ta’ala berfirman
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti kaum mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
6. Memandang kendaraan yang lebih rendah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada umatnya bagaimana cara memperkuat rasa syukur atas berbagai nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan, yaitu dengan selalu memandang orang-orang yang berada di bawahnya dalam akal, nasab (keturunan), harta, dan berbagai nikmat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian, dan jangan melihat orang yang di atas kalian. Itu lebih layak untuk kalian agar tidak memandang hina nikmat yang Allah anugerahkan kepada kalian.” (HR. Muslim)
Demikianlah paparan ringkas yang dapat kami tuliskan. Semoga kita dapat mengambil keteladanan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hanya kepada Allah-lah kita mohon pertolongan.
Referensi:
  1. Tafsir Al-Quran Al-Karim Surat Yasin hal 150-155, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Dar Ats-Tsurayya.
  2. Bahjah Qulub Al-Abrar hal 66, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
  3. Kitab Al-Adab hal 301-304, Fuad bin ‘Abdil ‘Aziz Asy Syalhubi, Dar Al-Qosam.
  4. Syarh Kitab Al-Qawa’id Al-Arba’ hal 22-23, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Dar As-Salafiyyah.
  5. Syarh Hishnul Muslim hal 292, 298, 301, Majdi bin ‘Abdil Wahhab Ahmad, Muassasah Al-Jaraysi Littauzi’ wal-I’lan.
***
Penulis: Ummu ‘Ubaidillah
Artikel Buletin Zuhairoh
Dipublikasi ulang oleh www.muslimah.or.id


Minggu, 08 November 2015

PERAN AUDITOR DALAM EKONOMI ISLAM

PERAN AUDITOR DALAM EKONOMI ISLAM
Oleh Asa Dwi Cahya Pangestu



laporan keuangan merupakan salah satu tombak utama dalam sebuah organisasi bisnis, perusahaan mendapatkan investor dan citra yang baik pun tidak lain dari laporan keuangan tersebut. Audit atas laporan keuangan sangat diperlukan, terutama bagi perusahaan berbadan hukum berbentuk perseroan terbatas yang bersifat terbuka (PT terbuka). Dalam bentuk badan usaha ini, perusahaan dikelola oleh manajemen profesional yang ditunjuk oleh para pemegang saham sebagai pemilik perusahaan dan akan diminta pertanggungjawabannya atas dana yang dipercayakan kepada mereka. Para pemegang saham akan meminta pertanggungjawaban manajemen dalam bentuk laporan keuangan. Demikian pula dengan perusahaan perseorangan maupun perusahaan berbadan hukum lain yang memiliki pihak diluar manajemen yang berkepentingan terhadap perusahaan, mereka membutuhkan informasi yang disajikan manajemen dalam laporan keuangan sebagai dasar pembuatan keputusan. Karena pentingnya laporan keuangan dalam suksesnya perjalanan organisasi bisnis, dewasa ini banyak sekali organisasi bisnis yang memakai jasa auditor dalam pembuatan maupun pemeriksaan laporan keuangan perusahaan tersebut.
Namun sayangnya jumlah auditor ahli saat ini hanya berjumlah 10.831 orang sebagian auditor ada di BPKP, padahal jumlah auditor yang diperlukan adalah 38.000 orang kalau di bandingkan auditor yang ada dengan jumlah auditor yang semestinya dibutuhkan rasanya sangat memprihatinkan dengan kondisi yang ada di lihat pentingnya  peran auditor dalam penyusunan dan pemeriksaan laporan keuangan di sebuah organisasi bisnis. Tidak dipungkiri banyak sekali kasus kecurangan laporan keuangan yang diungkap karena adanya pemeriksaan yang di lakukan oleh para auditor. (www.bpkp.go.id)
Melihat sangat berpengaruhnya peran auditor dalam pengungkapan kebenaran dalam sebuah laporan keuangan maka selain kepatuhan akan standar audit perlu juga adanya norma-norma syariah yang harus ada didalam diri seorang auditor , seperti sikap ihsan dengan mengedepankan kepada integritas, keikhlasan, ketakwaan, kebenaran dan berkerja sempurna, takut kepada Allah dalam segala hal, meyakini manusia bertanggung jawab dihadapan Allah. (daridin)
Selain hal yang disebutkan diatas seorang auditor pun juga harus memeriksa pengelolaan sumber daya yang diberlakukan oleh organisasi bisnis tersebut. kriteria pemeriksaan untuk pemeriksaan tersebut akan berasal dari praktek-praktek manajemen yang berlaku umum Tentu saja. dalam ekonomi lslam praktek ini juga akan mengalami perubahan tertentu dalam terang hukum syariah dan nilai-nilai. Sebagai akibat wajar. itu tersirat bahwa pemeriksaan semacam itu akan membutuhkan penjelasan dari standar untuk manajemen bisnis dalam rangka Islam. Standar ini akan dimanfaatkan oleh auditor untuk pemeriksaan nya.
Tanggung jawab lain yg ditambahkan auditor dalam kerangka Islam akan melaporkan sesuai dengan syari'at oleh perusahaan bisnis. Kepatuhan dengan syari'at menyiratkan ketaatan hukum syariah serta standar etika seperti yang dapat diturunkan dalam kerangka Islam dan yang ditegakkan secara sosial. Dengan demikian, di zaman sekarang. auditor mungkin diperlukan untuk melaporkan sejauh mana sebuah organisasi bisnis yang dihasilkan eksternalitas social,dalam hal ini akuntabilitas menjadi hal yang sangat utama dalam pelaporan pertanggung jawaban sebuah organisasi bisnis. (khan, )
Dari uraian diatas sangat jelas bahwa peran auditor dalam perspektif islam bermakna sangat luas, tidak hanya mengedepankan kepada kepentingan manajemen perusahaan tetapi juga mengedepankan kepada asas-asas yang telah dibangun oleh islam seperti integritas, keikhlasan, ketakwaan, kebenaran dan berkerja sempurna, takut kepada Allah dalam segala hal, meyakini manusia bertanggung jawab dihadapan Allah. Semoga dengan khazanah ini akan banyak bermunculan auditor-auditor handal yang mengedepankan akan asa-asas islami dalam melakukan pekerjaaanya agar terciptanya ekonomi Rabbani yang sangat kita impikan untuk kemajuan perekonomian bangsa ini.

daridin. (n.d.). http://www.bpkp.go.id. Retrieved 11 9, 2015
khan, m. a. ( ). role of auditor in islamic economy. j res isllamic economy vol 3 no 1 .
www.bpkp.go.id. (n.d.). Retrieved 11 9, 2015






AUDIT DALAM PERSPEKTIF ISLAM

AUDIT DALAM PERSPEKTIF  ISLAM



Dalam islam program pengawasan atas transaksi keuangan sudah ada sejak zaman Rasulullah. pengawasan yang dilakukan pada zaman dahulu dikenal dengan adanya lembaga hisbah yang bertugas mengawasi dan mengontrol  pasar agar tidak terjadi kecurangan dalam melakukan kegiatan transaksinya.
Jika diartikan dalam arti sempit, dalam dunia akuntansi proses audit bisa disebut juga dengan salah satu bentuk pengawasan karena salah satu tujuan audit adalah memastikan laporan keuangan dibuat sesuai dengan ketetapan yang berlaku.
Di Indonesia saat ini lembaga keuangan syariah berkembang cukup pesat. hal ini ditandai dengan sangat mudahnya dijumpai  bank bank syariah,   dan lembaga keuangan lainnya seperti asuransi, pegadaian dll yang berbasis syariah.
Seiring dengan bertambahnya lembaga keuangan syariah maka dibutuhkan SDM yang tidak hanya menguasai pengetahuan tentang ekonomi atau akuntansi saja namun dibutuhkan SDM yang memahami ilmu akuntansi dan syariah.
Secara umum audit syariah adalah audit laporan keuangan yang dilakukan pada lembaga keuangan syariah. Sebagaimana yang kita tahu tujuan dilakukannya audit laporan keuangan syariah adalah untuk mengetahui atau memastikan bahwa laporan keuangan dan transaksi – transaksi yang dijalankan oleh lembaga keuangan syariah atau entitas syariah telah sesuai dengan prinsip syariah, untuk mencapai tujuan tersebut  maka dibutuhkan auditor auditor yang tidak hanya mengerti dalam bidang akuntansi namun memiliki pengetahuan mengenai ekonomi syariah, sehingga pihak – pihak pengguna laporan keuangan percaya bahwa lembaga keuangan syariah telah melakukan kegiatannya sesuai dengan prinsip syariah.
Bedasarkan AAOIFI Prinsip-prinsip etika yang mengatur auditor profesional tanggung jawabnya meliputi:
  Kebenaran: Seorang auditor harus benar dalam hal tugasnya.
  Ketulusan (ikhlas): Ketulusan adalah kunci untuk semua kebajikan karena salah satu tidak bisa benar-benar melakukan tugas tanpa ketulusan.
  Passion for Excellence: Bahan yang paling penting untuk baik kinerja adalah adanya gairah yang melekat dalam individu.
  Kejujuran
  Kerahasiaan: Selama periode audit auditor harus menjaga rahasianya observasi.
  Kompetensi Profesional: Auditor harus kompeten tentang audit.
Dalam kenyataanya pelaksanaan audit syariah masih belum terlaksana dengan baik, masih banyak lembaga keuangan syariah yang laporan keuangannya diaudit oleh auditor yang belum syariah.  Sebagaimana penelitian yang dilakukan Muhammad Showkat Imran dkk, mengenai audit dalam perspektif islam dan praktik audit pada bank islam di bangladesh menyimpulkan bahwa praktik audit syariah belum dilaksanakan di bank bank syariah, selain itu penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa auditor eksternal dan internal bank tidak memiliki kualitas sebagai auditor syariah.
Hal ini menunjukan bahwa ekonomi syariah membutuhkan SDM ekonomi syariah yang profesional dalam bidangnya termasuk auditor syariah. Dalam melakukan tugasnya seorang auditor syariah mempunyai tanggungjwab yang lebih besar kepada Allah SWT, selain kepada pihak manajemen terkait, sehingga kemungkinan adanya kecurangan dalam melakukan proses audit sangat kecil.Lembaga keuangan syariah yang diaudit oleh auditor syariah akan mempunyai tingkat kepercayaan lebih dari pihak pihak pengguna laporan keuangan .

Nama  : Ecin Kuraesin
NIM     : 41201026
Kelas    : AS 2012 B